DERY AKBAR FAHREZI

Berpacu Menjadi Yang Terbaik

Maraknya Fenomena Hoax dan Krisis Kepercayaan Sosial

diposting oleh dery-akbar-fahrezi-feb17 pada 06 August 2017
di AMERTA - 0 komentar

Berita hoax dan krisis nya kepercayaan sosial dapat menurunkan kredibilitas pengusaha media cetak dikarenakan masyarakat tidak terlebih dahulu menyaring berita dan adanya dua berita yang tidak relevan. Dalam adanya berita hoax bagi perusahaan media cetak sangat dirugikan dikarenakan masyarakat terpusat di dalam berita hoax dan tidak lagi menanggapi media cetak yang terverifikasi kebenaranya. Perusahaan akan mengalami kerugian dalam segi ekonomi karena tidak lakunya lagi berita dari perusahaan media cetak karena masyarakat terfokus dalam berita hoax yang dibuat asal – asalan untuk memecahkan kelompok, kebijakan, produk tertentu. Masyarakat tidak lagi tertuju pada perusahaan media cetak yang beritanya dijamin keaslinya, tetapi masyarakat lebih gemar berita – berita yang tidak terverifikasi dan tidak dijamin keaslianya.  Secara otomatis perusahaan mengalami kerugian secara ekonomi. Menurut kami, pemerintah kurang efektif tentang adanya berita hoax.

Pemerintah hanya memblokir situs tersebut tanpa ada hukuman yang berat agar adanya efek jera untuk pelaku berita hoax. Perusahaan media cetak sangat membutuhkan peran pemerintah untuk menangkal berita hoax dikarenakan sangat dirugikan oleh adanya berita hoax. Para penyebar berita hoax umumnya berasal dari situs – situs atau blog yang meragukan kredibilitasnya, selain itu pada situs tersebut pasti identitas penulis berita disamarkan atau narasumber tidak jelas asal-usulnya sehingga ketika berita yang dituliskan terbukti hoax akan sulit untuk mencari oknum – oknum penyebar berita hoax yang tidakbertanggungjawab untuk ditindak lanjuti melalui jalur hukum, hal inilah yang menjadi alasan mengapa berita hoax masih merajalela dimana-mana dan sulit untuk dihentikan. Menurut saya, pemerintah harus lebih banyak memberikan sosialisasi atau edukasi untuk membedakan antara berita asli dan berita hoax.

Terdapat beberapa solusi untuk menangkal hoax yaitu setiap berita diberi kode barcode untuk dapat dicek keaslianya berita tersebut dan kode barcode tersebut terintegrasi oleh pemerintah, membuat aplikasi sederhana dibuat untuk semua kalangan agar dapat mudah melaporkan berita yang menurutnya ganjil atau berita hoax dan sesegera mungkin pemerintah memberikan “fast respon” terhadap pengaduan tersebut agar cepat melakukan pemblokiran terhadap berita tersebut dan mencari pelaku tersebut, membuat program yang menangkal tentang berita hoax secara otomatis jika muncul berita yang tidak terverifikasi kebenaranya , merevisi pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE yang disebutkan, "Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.” Dikarenakan hukuman pidananya yang terlalu ringan padahal berita hoax dapat memecahkan NKRI dan merugikan perusahaan media cetak.

 Menurut pendapat saya, berita hoax terjadi karena seseorang merasa informasi sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki tanpa adanya penyaringan berita dahulu. Misal seseorang memang sudah tidak setuju terhadap kelompok tertentu, produk, atau kebijakan tertentu. Ketika ada informasi tentang hal negatif dan sesuai opini dan sikapnya tersebut, maka ia mudah percaya, maka keinginan untuk melakukan pengecekan keaslian berita tersebut berkurang. Sebagai perusahaan media cetak menginginkan sikap profesionalisme dan menjunjung tinggi etika jurnalistik yaitu yaitu : independen, berimbang dan tidak mengandung iktikad buruk yang merugikan banyak pihak, justru seharusnya jurnalistik sebagai informasi yang sedang dibutuhkan masyarakat.

Menurut pendapat saya, berita hoax adalah kejahatan berat, karena berita hoax mengadu dombakan satu dengan yang lainya agar terciptanya kerusuhan, kemusuhan dan pertentangan. Berita hoax dapat memecahkan NKRI dikarenakan masyarakat tidak lagi menjunjung tinggi rasa kebersamaan dan semangat gotong royong. Saya berharap pemerintah dapat mengembalikan krisis kepercayaan sosial masyarakat.

Tindakan serius dari pemerintah ini memacu platform saya sebagai media cetak yang profesional, netral dan terpercaya semakin semangat untuk menerbitkan berita-berita yang dijamin kebenarannya dan dapat dipertanggungjawabkan agar masyarakat dapat membaca informasi yang jelas dan profesional. Media cetak akan selalu berusahamenampilkan kejujuran, netralitas dan tidak memihak siapapun. Sehingga berita atau informasi yang akan disebarluaskan atau dimuat di media cetak memiliki kredibilitas yang tinggi.

Hal yang perlu diingat, masyarakat perlu dididik untuk bepikir kritis dalam menanggapi berbagai informasi atau berita yang tersebar di media, baik di media sosial atau di media cetak. Bersikap kritis ini dapat dilakukan dengan mempertanyakan kebenaran informasi, melihat kredibilitas si pemberi informasi, dan mecari rujukan lain untuk memverifikasi dan mengklarifikasi informasi. Di media cetak, proses ini telah dilakukan oleh wartawan, penyunting berita dan redaktur. Sikap kritis lah yang dibutuhkan masyarakat Indonesia agar terhindar berita hoax atau adu domba dari oknum – oknum tertentu yang memiliki tujun tertentu yang negatif. Oleh karena itu, sebagai platform media cetak, saya selalu mengusahakan yang terbaik demi tersampainya berita yang jelas, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan agar terhindar oleh perbuatan yang dapat memecahkan NKRI.

Maka dari itu, validitas informasi yang diberikan media cetak saya sangatlah penting. Hal ini karena dikarenakan media massa merupakan sarana aktualisasi yang dapat membentuk pendapat umum dengan sangat cepat. Jika informasi yang dikonsumsi masyarakat tidak valid, maka kondisi ini tentu mengkhawatirkan.

Jika semua berita yang saya salurkan dalam perusahaan media cetak berisikan fakta, tentu masyarakat akan menilai perusahaan saya sebagai perusahaan yang dapat dipercaya kredibilitas beritanya. Menjadi media cetak yang trusted. Masyarakat senantiasa mengikuti setiap berita yang perusahaan saya sampaikan, yang nantinya berujung kepada pendapatan perusahaan saya. Semakin banyak masyrakat yang mengonsumsi berita saya, semakin besar pula pendapatan yang perusahaan dapatkan. Begitu pendapatan perusahaan bertambah, taraf penghidupan pekerja dalam perusahaan media cetak saya tentu akan meningkat.

Selain itu, pencapaian perusahaan saya karena memilih kebenaran merupakan pencapaian yang kontinuitas selama perusahaan saya tetap berpegang teguh pada kebenaran dan hanya menyalurkan berita sesuai fakta. Berbeda dengan perusahaan media cetak lainnya yang semata-mata mengejar ekonomi atau pendapatanya saja tanpa memperhatikan kebenaran akan isinya. Tentu tidak akan memiliki pencapaian yang kontinuitas karena masyarakat tidak lagi percaya kepada perusahaan mereka dan segera meninggalkan mereka. Akibatnya bisa mengalami kebangkrutan.

Oleh karenanya saya sebagai pengusaha media cetak lebih memilih kebenaran ketimbang ekonomi dalam tema maraknya fenomena hoax dan krisis kepercayaan sosial.

cantumin url diakhir artikel, misalnya Ini artikel ku Pengalaman saya selama amerta itu dateng pagi pulang malem. http://unair.ac.id

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :